pak kumis
Siang
ini, sepulang sekolah (di tanggal merah ini, sekolah saya tidak libur), saya
beranjak ke sebuah restoran untuk melakukan transaksi jual-beli (produk
kosmetik dan perawatan tubuh MLM yang baru saya geluti) dengan seorang klien. Dengan
gagah perkasa, saya berjalan kaki dari sekolah satu di SMAK 5 BPK Penabur, yang
terletak di Jalan Hibrida, sampai jejeran Mal Kelapa Gading. Dari depan deretan
Mal Kelapa Gading itu, saya menghentikan laju sebuah angkot biru bertajuk 37D,
lalu menaikinya sampai di depan McDonald Boulevard Barat.
Dari sana
Saya
memutuskan untuk menunggu sebentar di sebuah ruko yang tidak buka pada hari
itu. Entah ruko apa itu, letaknya selengkungan dengan Dunkin Donut, Nuansa
Musik, dan warnet Nexus. Di tengah penantian saya, muncul seorang pria paruh
baya, entah dari mana, begitu saja muncul di samping saya. Tubuhnya agak
berisi, kulitnya sawo matang, kumisnya subur, berbaju batik, menenteng jaket
coklat, bersepatu pantovel kulit hitam, rambutnya klimis, dan wajahnya susah.
Ia
menanyakan arah Pulo Gadung, saya menunjukkannya beserta petunjuk angkot apa
yang menuju ke sana
Kemudian, tanpa ditanya, ia menceritakan
pengalaman pahit yang tengah dialaminya kepada saya. Saya mendengarkan dengan
saksama dan berusaha memasang wajah sedih sebagai tanda simpati, meskipun
sebenarnya saya kurang menghayati kesulitannya. Berikut ceritanya.
Ia bercerita bahwa ia berangkat dari sebuah rumah
sakit di Jawa (tidak saya tanyakan Jawa mana), tanpa telepon genggam dan dengan
ongkos pas-pasan. Tujuannya adalah Jakarta, rumah kontrakkan seorang
saudaranya. Ia datang untuk membawa kabar dukacita kematian ayahnya. Rupanya,
dari pemilik kontrakan, ia mengetahui bahwa orang yang dia cari itu justru
sudah berangkat ke Jawa. Ia menjadi bingung.
Di tengah percakapan kami, akhirnya ia memutuskan
untuk kembali ke Jawa. Saya menyarankan kepadanya untuk mencoba berjualan koran
atau menjadi kenek untuk mengumpulkan uang mudah, tetapi ia mengungkapkan
masalah waktu. Ia sedang mengejar kereta terakhir di hari itu yang akan
berangkat ke daerah tujuannya di Jawa pada jam 15.30 WIB, sementara ia butuh Rp
65.000,- (enam puluh ribu rupiah). Ingat, ia hanya memiliki dua ribu rupiah.
Sebagai tanda simpati, saya menggaruk-garuk kepala.
Setelah perbincangan panjang dan bertele-tele,
saya memutuskan untuk menyumbang kepadanya Rp 50.000,- (lima puluh ribu
rupiah). Hanya itu yang bisa saya berikan karena jatah uang saya paling tidak
harus bertahan selama satu minggu dan jika saya berikan lebih dari itu,
kemungkinan besar saya akan mengalami bencana kelaparan di akhir pekan.
Setelahnya, ia meminta nomor telepon genggam
saya, untuk ia kirimi pulsa sebanyak pinjamannya ketika ia telah sampai di
tempat tujuannya. Namun, tidak saya
berikan. Sebagai gantinya, saya memberikan nomor rekening agar ia dapat
mentransfer utangnya. Lalu, saya meminta nomor telepon genggamnya agar bisa
saya hubungi. Rupanya, ia lupa. Ya sudah. Lalu, ia mengucap terima kasih, ia turun ke
jalan dan mencari tumpangan. Dengan lima puluh ribu itu, ia berniat membujuk
kondektur (ketahuilah, saya tidak tahu profesi apa itu).
Karena klien saya tak kunjung tiba, saya
memutuskan untuk beranjak ke urusan lain di gereja. Saya mengirim pesan singkat
kepada klien saya untuk mengabarinya dan membuat janji lain. Saya berjalan kaki
dari tempat itu ke gereja saya, GKI Agape di Jalan Raya Nias. Lelahnya tak
seberapa dibanding sorotan matahari yang membuat kulit saya menjadi belang.
Sepanjang perjalanan saya ke gereja, saya
menceritakan kepada seorang teman baik saya kejadian yang baru saja saya alami
bersama bapak-bapak itu via telepon genggam. Dengan yakin, ia berkata bahwa
saya telah ditipu dan bahwa keputusan untuk memberikan nomor rekening adalah
kesalahan besar. Entahlah. Jika sudah demikian, kepada Tuhan Yang Maha Tahu-lah
saya mengadu.
Saya berdoa agar selembar uang (hasil jerih payah
orang tua saya) itu tidak disalahgunakan. Berdoa agar Tuhan menyadarkan orang
itu jika orang itu ternyata jahat. Berdoa agar Tuhan mengurungkan setiap niat
jahat yang ia rencanakan. Berdoa agar rekeningku aman (di sana hanya ada
seratus lima puluh ribu hasil jerih payah memenangkan sebuah lomba karya tulis
tingkat kotamadya. Meskipun jumlahnya kecil, kesulitan mendapatkannya
membuatnya begitu berarti). Berdoa agar Tuhan membimbing jalan orang itu ke
solusi apabila ia memang sedang kesulitan.
Lalu, rugikah saya? Entahlah. Belum bisa saya
jawab. Saya sendiri mendapatkan pengalaman baru, mengagumi bakat akting orang
itu (jika memang ia berpura-pura), dan mendapatkan cerita baru. Lima puluh ribu
rupiah untuk semua itu? Entahlah, apakah setara.

